Rabu, 18 Februari 2009

Surat Al-Fatihah

Kamis, 2008 Oktober 23

BAB I
PENDAHULUAN


Syukur Alhamdulillah dengan segala nikmat, karunia, rahmat dan hidayah-Nya yang senantiasa menghiasi hidup kita. Terlebih dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw. menjadi rahmatan lil ‘alamin dengan al-Qur’an al-Karim sebagai mu’jizat kekal hingga hari akhir kelak.
Membahas al-Qur’an tentu tiada akan pernah habisnya. Al-Qur’an , sungguh ia adalah kitab, bacaan, hukum dan tuntunan yang sempurna bagi kehidupan. Luar biasa ketika kita bisa membaca, mempelajari, memahami, mengamalkan dan mengajarkannya. Kitab yang tidak akan kita temui keraguan padanya.
Salah satu kemulyaan al-Qur’an adalah dengan adanya surat al-Fatihah yang disebut sebagai ummul kitab. Salah satu surat yang memiliki keutamaan diantara surat yang lain. Surat yang terkandung segala apa yang terkandung dari seluruh surat.
Maka tidak salah jika pada bahasan secara ringkas berikut, saya mencoba untuk membahas dan mengkaji tafsir dari surat al-Fatihah. Mulai dari ayat per ayat, masalah basmalah, hukumnya dalam shalat hingga rahasia-rahasia lain yang terkandung dalamnya.




BAB II
PEMBAHASAN


Al-Fatihah surat pertama dalam sistematika penulisan dan penyusunan al-Qur’an. Salah satu surat yang memiliki keutamaan diantara surat yang lain. Satu-satunya surat yang termasuk rukun dalam shalat. Surat ini diturukan sebelum hijrah, di kota Makkah, termasuk surat Makkiyyah. Terdiri dari tujuh ayat, dua puluh sembilan kalimat dan seratus tiga puluh satu huruf. Dan ada pula pendapat yang menyatakan tujuh ayat, dua puluh lima kalimat dan seratus dua puluh lima huruf.
Dan untuk lebih jelas dan rinci tentang surat al-Fatihah ini berikut penjelasan beberapa permasalahan pada tafsirnya.
A. PENDAPAT PARA ULAMA’ TENTANG BASMALAH
Tidak ada yang menyangsikan tentang surat al-Fatihah. Semua ulama’ sepakat tentang jumlah ayatnya yang berjumlah tujuh ayat. Masalah yang timbul adalah tentang bacaan basmalah, apakah termasuk bagian dari surat al-Fatihah atau bukan. Ulama’ berselisih tentang masalah tersebut.
Ada beberapa pendapat tentang masalah basmlah, diantaranya:

A.1. Basmalah termasuk bagian surat al-Fatihah
Pada pendapat yang pertama Ulama’ berpendapat bahwa basmalah itu merupakan bagian dari surat al-Fatihah. Diantaranya adalah ulama’ Syafi’iyyah, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. ketika memberi contoh shalat Nabi Saw. membaca keras-keras bismillahirrahmanirrahim.
Sahabat Nabi Saw. selalu memulai bacaan kitab Allah dengan bismillahirrahmanirrahim. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi Saw. bersabda, yang artinya : “Apabila kamu membaca alhamdu lillahi rabbil ‘alamin maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena ia sesungguhnya adalah ummu al-Qur’an, ummu al-Kitab, dn tujuh ayat yang diulang-ulang, sedang bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu ayatnya.”
Sedangkan dari Anas r.a., bahwa ia pernah ditanya tentang bacaan Nabi Saw., lalu ia menjawab : “ Bacaannya panjang…kemudian ia membaca bismillahirrahmanirrahim; alhamdu lillahi rabbil ‘alamin …”

A.2. Basmalah termasuk bagian dari al-Qur’an
Pendapat yang kedua menyatakan bahwa basmalah bukan merupakan bagian dari ayat surat al-Fatihah. Tetapi ia merupakan bagian dari al-Qur’an, yakni Surat an-Naml ayat 30.
Pendapat yang digunakan oleh ulama’ Maliki, salah satunya berdasarkan hadits dari ‘Aisyah r.a. berkata, artinya, “ Biasanya Rasulullah Saw. memulai shalat dengan takbir dan bacaannya dengan alhamdulillahirabbil’alamin.”
Dan juga atas riwayat Anas r.a. berkata, yang artinya, “ Saya shalat di belakang Nabi Saw., Abu Bakar,Umar, Utsman dan mereka semuanya memulai bacaannya dengan alhamdulillahirabbil’alamin.”

A.3. Basmalah termasuk ayat setiap Surat
Ini merupakan ayat yang berdiri sendiri dalam al-Qur’an yang berfungsi sebagai pemisah antara surat-surat. Dan bukan bagian dari al-Fatihah. Hal ini dikemukakan oleh Imam Hanafi.
Kenyataan bahwa penulisan basmalah dalam al-Qur’an menunjukkan bahwa ia adalah sebuah ayat dai al-Qur’an tetapi tidak semua surat. Sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata bahwasannya Rasulullah Saw. tidak mengetahui batas surat sehingga diturunkan kepadanya Bismillahirrahmanirrahim.”

B. HUKUM MEMBACA BASMALAH
Sekarang bagaimanakah hukum dalam membaca surat al-Fatihah? Berikut ulasan ringkasnya. Ada beberapa perbedaan pendapat bagi para ulama’ Fiqh. Dan pendapat
B.1. Hukum membaca Basmalah dalam Shalat
Dalam hal Fuqahah’ berbeda pendapat. Timbulnya perbedaan pandangan ini disebabkan adanya perbedaan dalam menentukan status bamalah. Apakah termasuk bagian dari al-Fatihah dan setiap surat atau tidak. Masalah ini telah dijelaskan dari pembahasan diatas. Beberapa pendapat antara lain:
a. Imam Malik melarrang membacanya dalam shalat Fardhu, baik secara keras maupun perlahan. Demikian juga baik dipermulaan al-Fatihah maupun surat-surat lain. Tetapi beliau memperkenankan untuk membacanya ketika dalam shalat sunnah.
Dari ‘Aisyah r.a. berkata, artinya, “ Biasanya Rasulullah Saw. memulai shalat dengan takbir dan bacaannya dengan alhamdulillahirabbil’alamin.”
b. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa bagi orang yang sedang shalat, hendaknya membacanya secara perlahan (sirri) untuk setiap rakaatnya. Dan jika dibaca untuk setiap surat maka ini termasuk perbuatan yang baik.
c. Imam Syafi’i menyatakan wajib membacanya bagi orang yang shalat, baik ketika shalat jahriyah maupun sirriyah. Ketika shalat jahriyah hendaknya dibaca keras sedangkan ketika shalat sirriyah dibaca pelan.
Sedangkan dari Anas r.a., bahwa ia pernah ditanya tentang bacaan Nabi Saw., lalu ia menjawab : “ Bacaannya panjang…kemudian ia membaca bismillahirrahmanirrahim; alhamdu lillahi rabbil ‘alamin …”
d. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa basmalah harus dibaca perlahan dan tidak disunahkan keras.
B.2. Hukum membaca Basmalah di luar Shalat
Bagaimana hukum ketika kita membacanya diluar shalat? Dalam ucapan bismillahirrahmanirrahim terkandung makna dan faedah/fadhilah yang begitu besar. Maka dengan kebesaran fadhilahnya Rasulullah Saw. menganjurkan untuk selalu membacanya pada setiap perkataan dan perbuatan. Karenanya Nabi Saw. bersabda, yang artinya: “Setiap perbuatan yang tidak dimulai dengan (membaca) Bismillahirrahmanirrahim adalah terputus (dari barakah).”

C. NAMA-NAMA SURAT AL-FATIHAH
Selain bernama al-Fatihah, surat ini memiliki beberapa nama lain terkait kedudukannya yang memiliki keutamaan. Diantara nama-nama surat al-Fatihah antara lain:
C.1. Ummu al-Kitab (al-Qu’an)
Dalam satu riwayat dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata, bahwa Nabi Saw. bersabda, yang artinya : “Surat Alhamdu lillahi rabbil’alamin (al-Fatihah) ialah Ummu al-Qu’an, juga Ummu al-Kitab dan As-sab’u al-Matsani dan Al-Qur’an al-‘Adzhim.”
Imam al-Bukhari berkata, dinamakan Ummu al-Qur’an karena ia adalah induk dari al-Qur’an sebab mengandung semua isi al-Qur’an. Induk dari semua Kitab Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi-nabi-Nya, maka seakan –akan isi dari semua apa yang telah diwahyukan Allah SWT kepada Nabi-nabi-Nya disimpulkan dalam al-Fatihah.
C.2. As-sab’u al-Matsani
As-sab’u al-Matsani disini berarti tujuh ayat pujian yang selalu diulang-ulang oleh setiap muslim sekurang-kurangnya tujuh belas kali dalam sehari semalam.
Seperti dalam potongan terjemahan hadits Nabi Saw. dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla r.a. :”…Jawab Nabi Saw. :” Benar, Alhamdu lillahi rabil’alamin itulah As-sab’u al-Matsani dan al-Qur’an yang terbesar yang telah diturunkan Allah kepadaku.”
C.3. Ar-Ruqyah
Abu Sa’id al-Khudri r.a. berkata, yang artinya : Ketika kami dalam bepergian dan berkemah, tiba-tiba datang budak perempuan dan berkata, “Sesungguhnya pimpinan suku kami ini digigit binatang berbisa dan tidak ada orang, apakah diantara kalian ada yang dapat menjampi?” Maka berdirilah salah seorang diantara kami, kami tidak menyangka bahwa ia dapat menjampi. Langsung dijampinya, dan ia dapat sembuh. Kemudian ia diberi hadiah berupa tiga puluh ekor domba dan diberinya kami susu. Ketika ia kembali kami bertanya apakah ia pandai menjampi? Jawabnya, tidak, aku tidak menjampi kecuali dengan Ummu al-Kitab. Maka kami pun memberitahu agar domba-domba itu jangan diganggu sampai kami tiba di Madinah, lalu kami ceritakan kepada Rasulullah Saw. Maka Nabi Saw. bertanya : “Darimana ia tahu bahwa al-Fatihah itu sebagai jampi (untuk jampi)? Bagilah domba-domba itu dan berilah aku bagian.”

Disamping nama-nama diatas, al-Fatihah juga dinamakan surat alhamdu (pujian), ash-Shalah, asy-Syifa’ (penawar/obat), al-Waqiyah, al-Kafiyah dan ad-Du’a.

D. SEBAB DINAMAKAN DENGAN ALFATIHAH
Bernama al-Fatihah karena menjadi pembuka bacaan sembahyang, juga sebagai pembuka dari surat-surat dalam al-Qur’an.
Al-Fatihah merupakan surat pertama yang diturunkan secara utuh. Maka Nabi Saw. memberitahukan bahwa surat ini dijadikan sebagai pembuka al-Qur’an. Hal ini telah disepakati oleh seluruh ulama’. Bagaimana dengan surat al-‘Alaq, bukankah ia adalah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT?
Hal ini benar adanya. Namun perlu kita ketahui bahwa Surat al-‘Alaq diturunkan secara utuh setelah kewajiban shalat. Sedangkan shalat mesti dilaksanakan dengan membaca al-Fatihah. Dalam surat al-‘Alaq terdapat ayat yang berarti “Apakah kamu memperhatikan orang-orang yang menghalang-halangi seorang hamba apabilaia melaksanakan shalat? “ . Selain itu surat al-Alaq menjadi rangkaian dalam surat-surat pendek di akhir al-Qur’an.
Maka pantaslah bahwa surat ini disebut al-Fatihatu al-Kitab, yaitu pembuka a-Kitab, sebagai yang pertama dalam surat-surat al-Qur’an.

E. MASALAH DIDAHULUKANNYA “IYYAKA NA’BUDU” DARIPADA ”IYYAKA NAS TA’IN”
Jika terjemahannya maka artinya Hanya kepada-Mu (Allah) kami mengabdi (beribadah/menyembah) dan hanya kepada-Mu pula kami meminta pertolongan.
Maksudnya kami hanya mengkhususkan Engkau semata ya Allah dengan ibadah yang kami lakukan dan meminta serta memohon pertolongan.
Ibadah berarti menurut dengan perasaan rendah diri, mengabdi merasa abdi, hamba yang patuh dan tunduk. Menurut istilah agama yaitu menghimpun rasa kecintaan, merendahkan diri dan takut.
Dalam ayat ini sengaja didahulukan maf’ulnya yaitu iyyaka dan diulang untukmendapatkan perhatian, yang berarti Kamni tidak mennyembah kecuali Engkau, tidak berserah diri kecuali kepada-Mu.
Sebenarnya kesimpulan pengertian beragama itu hanya dalam kedua kalimat ini, sehingga kesepakatan Ulama’ Tafsir mengatakan, “Rahasia al-Qur’an ada pada al-Fatihah dan rahasia al-Fatihah ada pada ayati ini (5), sebab yang pertama berarti bebas dari syirik dan yang kedua bebas dari daya kekuatan dan menyerah bulat kepada Allah Ta’ala.”
Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Iyyaka na’budu berarti kepada-Mu kami menyembah, mengesakan dan takut serta berharap, wahai Rabb yang tiada selain-Mu. Dan Iyyaka nasta’in yang berarti kami meminta pertolongan kepada-Mu untuk menjalankan taat dan tunduk mencapai semua hajat kepentinganku.”
Sedangkan al-Qatadah berkata, “ Dalam Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk tulus ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, serta senantiasa benar-benar mengharap bantuan pertolongan Allah dalam segala urusan.”
Maka kita dituntut untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah, taat dalam menjalankan segala bentuk ibadah. Ketaatan kita inilah yang akan mengantarkan kita kepada kehidupan terbaik. Setelah kita telah melaksanakan semua perintah ketaatan pada Allah, barulah segala permohonan dan permintaan pertolongan kita kepada-Nya dapat terlaksana dengan hati yang jernih, yakin dan ikhlas.

F. TAFSIR AYAT TERAKHIR DARI SURAT AL-FATIHAH
Pada ayat ini kita dapat menemukan tiga hal yang utama, yaitu tiga golongan dari manusia yang sesuai dengan jalannya. Yaitu orang-orang yang diberi nikmat, orang-orang yang dimurkai serta orang-orang yang sesat.
Inilah yang dimaksud dengan jalan yang lurus pada ayat sebelumnya. Yaitu jalan yang dahulu telah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat ridha dan nikmat dari Allah. Mereka inilah yang dijelaskan dalam surat an-Nisa’ [4] ayat 69:
Ibnu Abbas r.a. berkata, :”Jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah kepada mereka sehingga dapat melaksanakan ibadah serta istiqamah seperti para Nabi, shiddiqin, syuhada dn shalihin.
Beberapa Ulama’ ahli tafsir menafsirkan bahwa orang-orang yang telah diberi nikmat itu adalah orang-orang Muslim. Orang-orang yang mau mengkuti hidayah Ilahi, mengimani Allah dan segala ajarannya. Hingga kelak telah dijanjikan akan mendapatkan nikmat yang agung, yakni syurga.
Ady bin Hatim r.a. bertanya kepada Nabi Saw. “Siapakah yang dimurkai Allah itu?” Jawab Nabi Saw.”al-Yahud.”. Dan siapakah yang sesat itu?”. Jawab Nabi Saw.”An-Nashara.”
Bukan jalan orang-orang yang dimurkai atas mereka yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya. Mereka inilah orang-orang yahudi, dimana mereka telah mengetahui kitab Allah, serta semua ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw. Juga bukan jalan orang-orang yang sesat karena kebodohan mereka.
Orang yahudi disebut orang-orang yang dikutuk (dilaknat) oleh Allah dan dimurkai, diantaranya telah dijadikan sebagian dari mereka kera dan babi. Sedangkan orang Nashara adalah orang-orang yan g telah sesat sejak dahulu dan menyesatkan banyak orang. Mereka itulah orang yang telah tersesat dari jalan kebenaran.
Setelah memberikan penafsiran secara bahasa, al-Baghawi mengatakan dalam kitabnya, Ma’alim al-Tanzil, bahwa al-Maghdub ’alaihim ditafsirkan sebagai orang Yahudi dan adh-Dhallin adalah orang Nasrani. Hal ini disebabkan Allah SWT. Menetapkan orang-orang Yahudi sebagai orang yang dimurkai, sebagaimana pada Firman-Nya, surat Al-Ma’idah[5] : 60, yang artinya, “yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah. Dan Allah menetapkan orang-orang Nasrani sebagai orang-orang yang sesat, sebagaimana Firman-Nya,”Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya.” (QS. Al-Ma’idah[5]:77)


BAB III
KESIMPULAN


Dari pembahasan tentang surat al-Fatihah tersebut dapat kita mengambil kesimpulan bahwa :
1. Al-Fatihah surat pertama dalam sistematika penulisan dan penyusunan al-Qur’an.
2. Salah satu surat yang memiliki keutamaan diantara surat yang lain.
3. al-Fatihah merupakan sebuah surat yang mengandung keseluruhan inti dari kandungan al-Qur’an.
4. Terdapat perbedaan antara Ulama’ dari pembahasan basmalah.


DAFTAR PUSTAKA


Bahreisy, Salim dan Sa’id. Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya. PT. Bina Ilmu. 1987.
Ash-Shabuni, Muhammad ‘Ali. Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni I. Surabaya. PT. Bina Ilmu. 1985.
Thalib, Muhammad. Drs.. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi. Yogyakarta. Sumber Ilmu. 1985.
Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir al-Fatihah wa Sittu Suwar min Khawatim al-Qur’an. Kairo. Al-Zahra li Al-I’lam Al-Arabi. 1426 H.
Bin Nashir As-Sa’adi, Abdurrahman.. Taisir al-Lathif al-Manan Fi Khulashah Tafsir al-Qur’an. Riyadh. Daar Thayyibah li an-Nashr wa Tauzi’. 1425 H.
Amir, Dja’far. Tafsir al-Munir. Surakarta. Mutiarasolo. 1986.
Al-Albani, M. Nashiruddin. Shifatu Shalati an-Nabi Saw.. Riyadh. Maktabah al-Ma’arif. 1417 H.